Ta’aruf Pengurus NU Ponorogo 2009

Ta’aruf Pengurus NU Ponorogo 2009

IMG_0007

Jum’at (12/06) kemarin, NU Cabang Ponorogo mengadakan Ta’aruf sebagai ajang silaturrahim dan “tegur sapa” antar pengurus terpilih. Setelah sekitar tiga bulan Konferensi Cabang (KONFERCAB) 2009 yang menghasilkan beberapa keputusan antara lain terpilihnya Fathul Aziz, MA sebagai ketua cabang periode 2009–2014 Nahdlatul Ulama Cabang Ponorogo, hajatan inipun dilaksanakan. Pengurus terpilih yang hadir dalam acara tersebut sekitar 150 orang, atau seperempat dari keseluruhan pengurus terpilih. Walaupun acara tersebut tidak dihadiri oleh seluruh pengurus terpilih, tetapi tetap tidak menghilangkan esensi dari serangkaian ”ritual” yang ada.

IMG_0010

Acara ta’aruf ini melibatkan keseluruhan lembaga dan lajnah baik lembaga independen maupun non-independen. Dari uraian ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut, jumlah lembaga untuk kepengurusan periode ini sebanyak 15 lembaga dan 2 lajnah, dan keseluruhan dari jumlah kepengurusan periode ini adalah 410 orang.

Menurut KH Sayuti Farid, Rois Syuriyah NU Ponorogo, dalam sambutannya beliau memaparkan beberapa kelemahan NU Ponorogo yang selama ini menjadi ganjalan terhadap kemjuan NU sendiri, diantaranya adalah warga NU masih kental dengan fanatisme kharismatik, artinya ketika memutuskan suatu masalah selalu mendasarkan pada pendapat perorangan (penokohan), hal ini menandakan bahwa kultur feodalisme dalam tubuh NU masih mengakar kuat, oleh sebab itu istilah “sabda pandita kyai” masih relevan disematkan pada identitas NU. Beliau juga sempat memaparkan keterlibatan NU dalam dinamisasi politik, menurutnya politik dalam kerangka NU harus dipahami sebagai politik yang berwawasan kebangsaan, dimana substansi politik lebih kepada kesejahteraan umat bukan pada melanggengkan kekuasaan. Beliau menambahkan, NU tidak pernah melarang kadernya untuk terlibat dalam konstelasi politik, akan tetapi disisi lain beliau juga menegaskan bahwa secara structural NU tidak terikat oleh suatu organisasi politik apapun.

Di sela-sela acara, dalam sambutanya ketua cabang Tanfidz terpilih Fathul Aziz, MA juga memaparkan tentang arah gerakan NU kedepan. Bahwa seluruh lembaga, lajnah, maupun banom NU harus mempunyai satu visi dan misi organisasi yang harus diperjuangkan dalam kurun waktu satu periode kedepan. Visi-misi yang dibangun oleh setiap lembaga, lajnah maupun banom NU harus menyandarkan pada visi misi NU secara universal, selain itu juga harus menyandarkan pada nilai-nilia yang terkandung dalam ASWAJA sebagai manhaj organisasi. (brt)

About the Author