(Simbol Perlawanan Kultural Kaum Marginal Desa Gandu)
Bagi warga Mlarak, siapa yang tidak mengenal Desa Gandu, Gandu tidak saja dikenal sebagai desa biasa, tetapi lebih dari itu, karena memiliki kekhasan tersendiri jika harus dibandigkan dengan desa-desa yang lain di Kecamatan Mlarak. Desa yang bersebelahan dengan desa Gontor yang terkenal Pondok Modern Darusslamnya ini dari segi ekonomi saja, merupakan salah satu titik pusat ekonomi karena mempunyai Pasar Desa yang setiap hari Pahing dan Kliwon (hari pasaran bagi masyarakat Jawa), dikunjungi para pedagang dan pembeli baik yang datang dari desa Gandu sendiri maupun dari desa-desa yang lain di kecamatan Mlarak dan bahkan juga dari wilayah kecamatan lain di kabupaten Ponorogo. Selain itu, dapat terlihat dari profesi yang diegluti para warga masyarakat yang cukup vareatif dari kelas atas (semisal Bapak Joko salah satu kontraktor ternama di Bumi Reog, dll), menengah (semisal Bapak K.H. Slamet seorang pedagang emas yang sebelumnya menngeluti dunia peternakan, Bapak Usman Zuhdi, seorang dosen IAIN Sunan Ampel Suarbaya dan juga pemilik toko peralatan rumah tangga, Asy-Syifa, yang cukup terkenal untuk wilayah Mlarak dan sekitarnya, dll) dan kelas bawah –dan ini adalah mayoritas warganya– (semisal Bapak Solekan, seorang kuli serabutan yang selalu bersahaja meski perkawinannya dengan Yu Yem yang sudah delapan tahun lebih belum juga dikaruniai anak. Abu Bakar, seorang penyandang cacat yang terus bertahan hidup dengan bisnis Bilyard-nya meski harus menghadapi hujatan dari beberapa kalangan tokoh desa, dll).
Dari segi kegamaan desa Gandu dikenal dengan ke-“Santri”-an warga masyarakatnya, ini dibuktikan dengan munculnya agamawan-agamawan yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam peta perkembangan keagaaman di Ponorogo sendiri, yang beberapa di antaranya menjadi tokoh Cabang Ponorogo untuk beberapa ormas Islam, semisal NU (Seperti K. Qomari Ridlwan), Muhammadiyah (seperti Alm. K. Ahmad Khoiri) dan LDII (seperti K.H.. Efendi –meski sekarang sudah tidak lagi berdomisili di Gandu karena bangkrutya bisnis yang dikelolanya).
Dari segi pendidikan bisa dikatakan Gandu merupakan desa yang maju untuk sekaliber wilayah Mlarak, banyak para sarjana baik lulusan universitas dalam negeri ataupun luar negeri, para sarjana ini lebih banyak didapati di Dukuh Gandu atau Krajan dibandingkan dengan dukuh-dukuh yang lain –Mangunarjo, Mambil dan Sembung– meski juga bisa diketemukan yang memiliki kualitas yang tidak kalah hebatnya. Sarjana-sarjana ini tidak hanya secara kapasitas terterima di lingkungan desa, namun juga dapat mewarnai perjalanan sejarah baik di tingkitan lokal (seperti Bapak H. Ahmad Zayadi, alumnus IKIP Malang ini sekarang menjadi salah satu tokoh pendidikan di STKIP PGRI Ponorogo, juga Ahmad Zubaidi L.C., alumnus LIPIA yang sekarang menjadi tenaga pengajar pada STAIN Ponorogo dan juga menjadi ta’mir Masjid Muhammadiyah di tengah-tengah kota Ponorogo), tingkatan regional (seperti Ust. Zaenal Arifin L.C., alumnus Kairo ini sekarang menjadi direktur lembaga pendidikan Al-Islam di Kabupaten Nganjuk, Khoirul Ni’am, seorang doktor dari Jerman dalam bidang Islamic Studies sekarang menjadi pengajar di Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya), dan bahkan pada tingkatan Nasional (seperti K.H. Akrim Marimat, seorang alumnus McGill University menjadi tokoh “gaek” di Pondok Modern Gontor). Rata-rata pemudanya minimal menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTA, dari segala jenis pedidikan baik keagamaan maupun secular. Dinamika kependidikan di Gandu juga akan terlihat dari beberapa lembaga pendidikan yang tumbuh berkembang, yang membentang dari tingkatan pra-sekolah di sana terdapat Play Group “Arina Manasikana,” beberapa taman kanak-kanak, R.A. Muslimat Gandu, R.A. Muslimat Sembung dan B.A. Asyiyah Mambil, ada dua pendidikan dasar yaitu SDN Gandu dan MI Ma’arif Gandu, di tingkat SLTP terdapat SMP Ma’arif 6 dan SMP Al-Amin, di sana juga terdapat Yayasan Yatim Piyatu Al-Amin, dan yang tidak boleh ketinggalan di Gandu juga ada beberapa pondok syalafiyah, P.P. Dar Al-Rahmah, P.P. Nur Al-Shomad, P.P. Nidlo Besari. Juga perlu diketahui secara embrional P.P. Al-Islam Joresan Mlarak dan Pondok Modern Al-Iman Babadan-Kauman juga dicetuskan oleh tokoh-tokoh dari desa Gandu.
Dari segi budaya Gandu mungkin bisa dikatakan sudah mampu menyerap dan menerima tradisi modernitas dalam bermasyarakat, hal ini ditandai dengan penggunaan manajemen organisasi modern dalam mengelola organisasi kumpulan warga dan karang tarunanya. Nilai-nilai demokrasi telah tampak secara ekstensif pada pola bermasyarakatnya, contoh yang paling kongkret dari hal tersebut adalah kebebasan mengeluarkan pendapat dan berbicara dalam berbagai forum-forum warga. Gaya hidup masyarakatnyapun tidak jauh berbeda dengan gaya hidup masyarakat perkotaan, dalam hal pakaian saja warga masyarakatnya telah begitu asyik dan enjoy dengan model yang sedang ngetrend, soal olah ragapun juga telah menjadi lebih modern dibanding dengan desa-desa yang lain, beberapa perempuan Gandu telah berani mendirikan Club Badmintoon berada di Balai Desa dan waktu bertandingnyapun pada malam hari. Juga hal ini dapat diketahui dari beberapa warganya yang telah banyak memiliki perangkat internet pribadi.
Dari segi politik, Gandu telah dapat menerima pluraritas politik, selain itu juga beberapa tokoh politiknya juga merupakan tokoh politik regional Ponorogo, di antaranya ada Bapak Maulana Ketua Dewan Syuriah Cab. PKB Ponorogo, Bapak H. Najat tokoh PPP Ponorogo, Bapak Gufron tokoh PDIP Ponorogo, Ibnu Malik Ketua Cabang PPNUI Ponorogo, Amhad Busyra Tokoh Muda Partai Golkar Ponorogo, dan lain sebagainya. Keberagaman afiliasi politik warga Gandu ini, mengindikasikan pluraritas pemikiran politiknya yang telah bergeser dari tradisi klasik (patron-klien?), meski warga masyarakat mayoritas adalah warga Nahdliyyin.
Secara geografis Gandu sebenarnya termasuk desa yang tidak luas untuk wilayah Mlarak, tetapi memiliki nilai strategis tersendiri karena di sebelah utara desa dilalui jalan trans-kabupaten dan juga letaknya pada dataran sedang. Jarak dari kotapun tidak terlalu jauh kurang lebih hanya 10 Km saja.
Mungkin jika dilihat dari segi modernitas warganya dan kemajuan berpikirnya, orang akan mengira bahwa desa Gandu adalah desa yang mayoritas warganya sejahtera baik dari segi apapun. Namun, jika orang tersebut mau mengamati lebih dalam dan syukur-syukur berkenan untuk berempati, maka akan nampak dengan nyata serangkaian persoalan social menghinggapi warga masyarakatnya, kemiskinan, diskriminasi, monopoli dan bahkan penindasan. Hal ini memicu bergesernya paradigma beberapa kelompok warganya, yang semula “santri” kemudian bergeser kepada “abangan” –jika istilah Gretz ini masih boleh digunakan– tentunya ini tampak jelas dari perilaku social mereka, bagaimana mereka memandang kehidupan ini, bagaimana mereka mendefinisikan kebersamaan, dan lain sebagainya. Hal ini lebih dipicu oleh kebosanan dan kemuakan mereka terhadap para tokoh masyarakat yang mengkalim diri mereka sebagai agamawan, kiyai dan intelektual, yang ternyata mereka tidak bisa menyelesaikan berbagai persolaan masyarakat, dan malah semuanya masih dilihat dari serba hitam-putih, halal-haram, positivistic, melihat persolaan tidak secara substansial tetapi hanya apa yang tampak dari kulitnya.
Contoh yang paling kongkret adalah pada kasus Abu Bakar seoarang penyandang cacat yang harus menerima berbagai cacian dan hinaan dari warga yang lebih “santri,” ini disebakan dia mendirikan usaha Bilyard, kaum yang lebih “santri” itu mengangap Abu Bakar telah mendirikan usaha haram dan mereka berkehendak untuk menutup usaha tersebut dan yang lebih parah lagi mereka tidak mencari solusi yang bijak, sebenarnya mereka bisa mencarikan lapangan kerja yang lain, tetapi hal ini tidak dilakukan. Mungkin yang menjadi persoalan di sini adalah kaum yang lebih santri itu tidak mau tahu sebab-musabab mengapa Abu Bakar mendirikan usaha itu, jika mereka mau menggunakan akal sehat mereka pastilah mereka tidak akan berbuat seperti itu. “Abu Bakar juga manusia” (meminjam istilah dari group musik Serius) yang memiliki kebutuhan dasar dan keinginan untuk lebih sejahtera dan menjadi sejajar dengan warga msyarakat yang lain, mengapa para kaum santri itu sama sekali tidak memiliki rasa empati akan persoalan ini dan hanya memandang sebelah mata. Persolan ini memicu beberapa warga masyarakat yang semula santri yang kemudian bergeser menjadi abangan untuk melakukan perlawan secara cultural, namun tidak secara structural, karena secara mereka tidak memiliki kekuatan social sama sekali, dan bahkan bisa dibilang mereka adalah kaum marginal. Jika di atas telah dijelaskan peta pendidikan dan keberagamaan warganya, maka sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi. Pada dasarnya persolaan social ini juga terjadi dalam masyarakat yang lain. Tetapi yang aneh dari desa Gandu yang seringkali dianggap “masyarakat santri berpendidikan” mengapa persoalan-persolaan itu dapat muncul? Jika di sana ada serangkaian tokoh masyarakat yang telah tercerahkan, mengapa justru penindasan justru subur berkembang? Apakah yang salah dari ini semua? Yang menarik di sini adalah perlu diadalakan sebuah penelitian yang holistic nan emansipatif tentang perlawanan cultural ini.
Wa Fawqa Kulli Dzii’ Ilmin ‘Aliim …
Pinggiran Ronowijayan, Selasa, 11 Juli 2006, pukul 19.31. WIB.

Lakpesdam Ponorogo maju terus!!!!!!!!!!!!!!!!!
ikut nyimak, gag papalah walau udah 2009 kemaren.. Xixixiz ^_^