Refleksi Keislaman Kita

oleh: Arwan Hamidi

Kata ibu saya: “Islam itu selalu dan akan terus berbanding lurus dengan segala macam kebajikan, keadilan serta akal sehat (common sense)”

Beberapa waktu yang lalu, saya lupa tepatnya tetapi seingat saya sekitar catur wulan pertama tahun 2006 ini, saat saya bepergian ke Malang dengan teman-teman kelompok tani “sumber urip,” guna mengkuti pertemuan jejaring agrobisnis se jawa timur, tepatnya di C.V. Caprina Malang. Ada sedikit pengalaman menarik yang bisa saya sharing-kan kepada teman-teman peserta Mapaba. Pertemuan itu memang bukan pertemuan yang formal, tetapi lebih cultural sifatnya, karena memang pertemuan jejaring petani tidak membutuhkan formalitas, yang terpenting adalah hasilnya dan bagaimana aksi di lapangan –jadi kalau ada pertemuan yang mengatasnamakan petani dan sifatnya yang sangat formal apalagi cennderung kaku, dan malah yang hadir adalah orang-orang yang memakai dasi, maka pertemuan itu jelas harus dipertanyakan, benarkah itu milik petani atau jangan-jangan hanya menjadi bungkusan saja symbol “petani.” Diskusi tersebut kami laksanakan dari setelah magrib hingga menjelang waktu shubuh, dalam pertemuan itu tidak hanya membahas bagaimana petani bisa maju dan sejahtera, tetapi juga ada sedikit obrolan-obrolan teologis, terkadang ringan dan bahkan terkadang juga sangat berat dirasakan.

Dalam obrolan terbatas itu, semua hadirin selalu disuguhkan pertanyaan-pertanyaan atau statemen-statemen yang terkadang mampu menyadarkan para hadirin dari tidur, secara teologis. Forum itu dipimpin oleh pimpinan C.V. Caprina, Bapak Ir. Mulyadi, seorang alumnus IPB yang lebih memilih hidupnya diabdikan untuk memberdayakan petani dari pada menjadi pejabat ataupun dozent. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memang sederhana kelihatannya seperti apa tujuan kita ke sini? Mencari unag atau menjadi salah satu wujud dari konsep rahmatan lil ‘alamin yang ada dalam agama kita? Apakah dalam keseharian kita selalu terus menyadari bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini seharusnya selalu untuk mewujudkan keadilan di muka bumi ini, tentunya lintas dimensi, tidak perlu memperhitungkan lagi suku, ras, agama, bangsa dan bahkan seluruh mahluk hidup yang ada dalam alam semesta ini?

Beliau bercerita tentang apa yang harus dilakukan (atau bahkan apa yang harus dikorbankan) seorang muslim demi menjaga keseimbangan alam ini, dengan mencontohkan sebuah cerita dari tradisi sufi, pada suatu ketika ada seorang kiyai yang melakukan perjalanan jauh hingga sampai di sebuah hutan belantara, kemudian sufi tersebut melaksanakan ibadah shalat dan dilanjutkan dengan berdzikir. Tiba-tiba muncullah seekor macan yang berjalan kearahnya dengan terseok-seok, kiyai itu memahami bahwa macan tersebut sedang dalam keadaan lapar yang sangat, selanjutnya berfikir apa yang bisa diperbuat untuk membantu menghilangkan rasa lapar si macan itu. Kiyai itu sadar bahwa perbekalannya sudah habis dan tidak ada lagi yang tersisa. Tanpa berpikir panjang ia mengambil sebilah pisau yang ada di dekatnya, kemudian tanpa rasa canggung ia menyayat lengannya yang sebelah kiri untuk diambil daginnya dan segera diberikan kepada macan itu, segeralah disantap dengan lahapnya. Setelah itu, kiyai itu melanjutkan dzikirnya, dan sang macanpun dengan pengertian meninggalkannya dan seakan-akan mengucapkan rasa terimakasih yang tak terhingga atas pertolongannya menyelamatkannya dari kematian.

Sampai di sini saya teringat cerita yang datang dari tradisi Budha tentang Dewi Kuan ‘Im. Dahulu kala sebelum Dewi Kuan ‘Im menjadi seorang dewi, dia adalah seorang lelaki pertapa yang selalu khusuk dalam pertapaanya, hingga pada suatu ketika muncullah seekor kerbau yang kelaparan, sang pertapa itu kemudian ingin segera membantunya terbebas dari kelaparan, namun ia ingat telah tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang melekat pada badannya. Entah bagaimana awalnya, ia kemudian menawarkan dan merelakan tubuhnya untuk dimakan sang kerbau. Kerbau itu menyetuji tawarannya, ia santap seluruh tubuhnya tanpa tersisa. Karena kasih sayannya kepada mahluk hidup yang lain inilah, maka kerajaan dewa segera mengangkat sang pertapa itu menjadi seorang dewi, hingga terkenal dengan sebutan Dewi Kuan ‘Im.

Di samping itu Ir. Mulyadi menceritakan tentang pentingnya berkorban untuk sesama mahluk Allah. Dia beralasan bahwa apapun di dunia ini yang akan kita lakukan harus tetap selalu nyambung dengan konsep rahmatan lil ‘âlamîn (memayu hayuning bawana dalam bahasa jawanya atau “kasih yesus” dalam tradisi kristiani). Konsepsi rahmatan lil ‘âlamîn ini tidak hanya selesai pada dataran makna, tetapi lebih dari itu harus hingga pada dataran aplikasi di lapangan. Kita sering kali melihat banyak orang islam yang sudah mengetahui konsep tersebut dan bahkan memahaminya, akan tetapi tindakannya masih jauh dari pencerminan rasa kasih sayang. Di antara kita, masih suka menindas, menghisap, mengambil hak orang lain dan bahkan tidak mau tahu nasib orang lain. Contoh yang sederhana adalah bagaimana hari ini apapun yang kita lakukan bukan demi Tuhan ataupun konsep rahmatan lil ‘âlamîn, namun untuk mendapatkan kekayaan, meraup keuntungan, derajat dan pangkat. Banyak dari kita hari ini yang membantu saudaranya tanpa risi dalam hati berniat agar saudara kita tunduk pada kita dan suatu saat dapat kita manfaatkan untuk kepentingan politik kita. Atau kita membantu agar orang berdecak kagum dan menyangka kita seorang dermawan. Hingga pada cara berpakaian, kita memakai pakaian ‘ala Arab, pakai sorban dan jubah untuk yang lelaki atau memai jilab yang besar dan jubah untuk yang perempuan agar orang menyangka kita sebagai orang yang benar-benar khusuk dan paling islami. Dengan berbagai cerita dan pertanyaan di atas, semua orang tersadar kembali akan apa sebenarnya tujuan kita hidup ini. Termasuk saya, dimana saya telah benar-benar bergeser ke arah yang menghawatirkan.

Setelah berdikusi panjang lebar kami sedianya segera meluncur ke Ponorogo, tetapi Pak Mul –panggilan akrabnya– menyarakan kami barang sebentar untuk mampir sowan di Gus Mad, merupakan guru spiritualnya Pak Mul. Kami putuskan untuk pergi sowan ke Gus, di sana kami mendengarkan berbagai hal yang disampaikan, yang intinya tetap seputar konsep rahmatan lil ‘âlamîn, hinngga belilau berpesan bahwa kita dalam berdo’a harus juga mencerminkan konsep rahmatan lil ‘âlamîn, kita sering kali berdo’a dan memohon ampun kepada Tuhan seringkali hanya sebatas kesalahan kita, orang tua, saudara, guru atau seluruh umat Islam, bagi Gus Mad model iftighfar semacam itu masih jauh dari konsep rahmatan lil ‘alamin, bagaimana tidak? Bagaimana kekhilafan yang dilakukan oleh umat manusia yang lain di luar islam apakah juga tidak kita mintakan ampunan dari Tuhan? Bagaimana kesalahan yang dilakukan oleh mahluk lain di luar manusia, apakah juga tidak kita mohonkan ampun? Padahal jika kita merujuk konsep rahmatan lil ‘âlamîn maka berkasih sayang kepada semesta alam adalah hal yang niscaya. Maka dalam konteks berdo’apun kita juga harus tetap selalu nyambung dengan konsep tersebut, Gus Mad menyarankan jika kita berdo’a dan beristighfar maka kita juga harus memohonkan ampun atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh seluruh mahluk. Astaghfirullâh lî wa li sâ’iril mahluqâti. Jadi, konsep rahmatan lil ‘âlamîn tidak hanya menjadi label dan symbol saja, namun lebih dari itu kita harus benar-benar mengahayatinya dan melaksanakannya dalam setiap derap nafas dan langkah kita, dari hal yang sangat remeh-temeh hingga ke sesuatu yang besar.

Wallâhu a’lam bi al-shawab
Wa fawqa kulli dzî ‘ilm ‘alîm

Pinggiran Gandu, 03 Desember 2006, 09.35 WIB.