Oleh: Win Usuluddin Bernadien (Dosen Filsafat STAIN Jember & Intelektual Muda NU)
Dua tahun yang lalu, tepatnya pada 25 Januari 2007 yang bertepatan dengan 6 Muharram 1428 H, majalah Khittah dan PMII Komisariat STAIN Jember menggelar bedah buku dengan judul “NU Studies, Pergolakan Pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal”. Dengan nada guyon acara itu oleh H. Misbahussalam, M.Pd.I (Wakil Ketua PCNU Jember dan juga Wakil Ketua Komisi C DPRD Jember) diplesetkan menjadi “bedah makalah”, karena memang Panitia tidak menyediakan buku yang akan dibedah, Panita hanya menyediakan makalah yang barangkali diharapkan menjadi replika bagi buku yang ditulis oleh Ahmad Baso pada tahun 2006 itu. Panitia memang cukup sukses menggelar acara tersebut berkat ridlo Allah Azza wa Jalla dan sudah barang tentu karena dimotori oleh segenap unsur dan elemen NU se Jember. Perhelatan itu lalu kemudian mengingatkan saya pada saat-saat masih aktif di IPNU 20-an tahun yang lalu baik saat masih menjadi anggota atau saat saya menjadi Ketuanya di salah satu Ranting atau Ancab di Ponorogo sana.
Ada arus kesan yang sangat kuat yang sempat saya tangkap dari Ahmad Baso saat presentasi makalahnya. Arus itu lalu saya definisikan sendiri sebagai arus “reaksioner” sehingga membuat saya harus sejenak mengernyitkan kening seraya bertanya: apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh Baso sang intelektual muda NU ini?.
Sejalan dengan itu, dalam pembacaan saya Baso tidak lebih dari seorang anak muda yang sedang mengalami pergolakan pemikiran, seorang anak muda yang sedang merasakan kegelisahan inteletektual sehingga apa yang dipresentasikan itu —-bisa jadi yang ditulis dalam buku itu— tak lebih dari sebuah respon reaksioner atas tangkapan kesan dia tentang peran yang sedang dilakonkan NU saat ini. Baginya NU saat ini telah mengalami penggerogotan eksistensi akibat ulah para peneliti yang oleh sebagian besar anggapan kaum Nahdliyyin dinilai tidak mengerti NU atau oleh mereka yang terlahir dari komunitas NU tetapi telah “murtad” dari mainstream NU, akibatnya NU kini telah dikonteskan secara salah oleh para peneliti dan kaum murtadin itu. Ironisnya —menurut Baso— mereka justru mendapat pengikut dan murid yang setia dan siap “menyerang balik” kepada mereka yang tak sepakat atas “kontes yang salah” itu, akibatnya NU telah kehilangan peran subjektivitasnya dan NU kini bukanlah sebagai fa’il tetapi hanyalah sekedar objek wacana, sekedar objek advokasi, sekedar sasaran, bahkan betul-betul diposisikan sebagai pasien yang tidak boleh keluar dan lari dari rumah sakit tempat ia dirawat.
Di aula kantor NU Jember itu Baso tidak memberi konsep yang jelas bagaimana cara orang NU “menulis diri”nya, bahkan dia juga tidak memberikan alasan mengapa dan untuk apa kita kaum Nahdliyyin harus “menulis kembali” akan kediriannya. Menurut saya: bukankah NU memang telah memiliki kedirian yang sudah barang tentu bisa dipandang dari berbagai sudut. Toh cara pandang dan hasil pandang yang dilakukan oleh siapapun terhadap NU tidak akan pernah mengubah apalagi memburamkan citra NU, sebab senyatanya NU telah memiliki spektrum citra yang beragam akibat sentuhan yang berkesinambungan dengan sejarahnya.
Dalam bingkai perspektif kesejarahan, saya pikir, kaum nahdliyyin tidak perlu merasa tertantang untuk menunjukkan rasionalitasnya untuk tujuan-tujuan yang sifatnya instrumental dan utilitarian yang kasuistik. Tradisi NU tidak akan pernah terkoyak sekalipun dikonfrontasikan dengan modernitas, karenanya sesungguhnya NU adalah sekatisasi dan kotakisasi yang justru membedakannya dengan “diri yang lain”. Dalam bingkai sosio-antropologis bisa saja orang menganggap NU itu periferal, NU itu jumud, NU itu ¬ndesani, tetapi dalam bingkai yang sama dan didukung dengan realitas historis yang ada maka sudah barang tentu NU pun boleh diposisikan sebagai central sekaligus moderat dan progresif.
Dalam kontes kesejarahannya pula, NU yang dibidani kelahirannya oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, sengaja diciptakan untuk mengakomodasi dan mempertemutalikan komunitas ahlussunnah wal jama’ah yang intelektual-rasionalis (para ulama), kaum spiritualis-tradisionalis (para kyai), juga kaum muda yang kreatif dan progresis (baca: Hizbullah dan al-Mujahidin yang didirikan kemudian). NU sengaja “diciptakan” oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari nilai-nilai yang secara ideologis dan kultural telah berkembang di masyarakat yang menjunjung tinggi “norma-norma suci” salafish-shalih. Jelasnya, kita tidak perlu takut pathe’en jika ada orang yang melihat bagaimana kita sedang berkontes di panggung realitas jagat raya ini. Toh memerankan-diri, menuliskan-diri, menunjukkan-diri, memaknai-diri atau apalah namanya tak cukup sekedar semacam usaha untuk menegakkan posisi-diri di tengah zaman tetapi lebih dari itu kita juga harus mampu menciptakan “power in everywhere”. Hal ini penting, sebab selama ini kita seringkali merasa tidak percaya-diri takala melihat apalagi berhadapan dengan perkembangan dunia masa kini, dunia yang kini telah menjadi ajang pentas pembuktian konsep-konsep Barat yang tidak pernah memahami secara mencukupi terhadap nilai-nilai Islam. Misalnya saja, tatkala mereka mengangkat demokrasi Barat sebagai wacana sekaligus tuntutan realitas sejarah, atau tatkala mereka bicara dan menciptakan pengarusutamaan gender, kita pun lalu malu-malu tapi mau mengikuti kemauan mereka, hanya untuk sekedar agar kita tidak dianggap sebagai kaum pinggiran kita lalu mereaksinya secara latah dengan coba-coba mendekonstruksi fiqh sebagai grand narasi menjadi lebih simple dan tersekat-sekat, maka muncullah fiqh politik, fiqh korupsi, fiqh perempuan, fiqh pluralisme dan entah fiqh apa lagi. Contoh lain, misalnya, tatkala di Barat muncul renaissance tiga abad yang silam, di sini dan sekarang kemudian muncullah generasi baru yang menganggap pembaharuan dan progresivitas merupakan keniscayaan bagi “pencerahan” umat lalu mereka meninggalkan tradisi ciri khas ke-diri-annya.
Kita tidak anti Barat tetapi bukankah kita telah memiliki pakem sendiri sebagai “ke-jati-diri-an” kita yang mestinya dapat dengan percaya diri kita pentaskan sesuai pakem kita itu. Bukankah Sayyidina Muhammad saw telah mensabdakan kepada kita: “Antum a’lamu bi umuuri dunya kum” dan bukankah para sesepuh kita juga sudah memberi wejangan adi luhung bahwa dalam kita “ber-ada” di jagad raya ini, dimana tradisi dan pemikiran sebaiknya dipertahankan dan dikembangkan dalam bingkai: “al muhafadhatu ‘ala qadimi al sahalih wal ahdzu bi al-jadidi al-ashlah”. Karena itulah saya pikir NU dan nahdliyyin tidak perlu tergagap lalu reaksioner berhadapan dengan pemikiran fundamentalisme Islam, lalu bergolak dengan hadirnya fundamentalisme Neo-Liberal. NU dan nahdliyyin tidak perlu terperangah lalu reaksioner berhadapan dengan para outsider yang meneliti atau sekedar melihat lalu berkomentar tentang kita. Hal ini penting untuk ditekankan, sebab sejak semula NU memang sengaja “diciptakan” dari realitas yang pluralis sehingga jika darinya “tercipta” pula beragam pribadi bahkan beraneka perspektif maka kita tidak perlu limbung, kita tidak perlu grogi apalagi risih. Bukankah Gusti Rasul Muhammad saw sudah ngendiko kepada kita bahwa pluralitas kita adalah rahmat juga bagi kita.
Akhirnya, seraya tetap menunggu matan dari sarah buku Anda itu —begitu Mbah Muchith Muzadi menyebutnya— dan dengan meminjam perspektif idealisme ala Fichtean saya ingin mengatakan kepada Mas Baso: tetaplah Anda menjadi Ego yang berada di jalanmu dengan segala realitas yang melekat pada dirimu seraya tetap mengapresiasi non-ego yang mempribadi pada individu-individu yang lain, toh dengan demikian kita tetap saja menjadi nahdliyyin.[]
