Berbagi Ilmu Jurnalistik: Pengantar Singkat

oleh: m. arwan hamidi[1]

”Dua hal yang harus benar-benar dikuasai oleh anak-anak PTAI, berbicara dan menulis.

Mahasiswa PTAI Harus bisa Berbicara dan Menulis?

Kalimat di atas tiba-tiba muncul ketika saya secara informal berbincang-bincang dengan beberapa teman mahasiswa Yogyakarta. Pada saat itu saya masih menjadi mahasiswa di Jurusan Ushuluddin STAIN Ponorogo, sekitar 7 tahun yang lalu. Maksud sederhananya dari kalimat itu adalah bahwa secara teknis mahasiswa PTAI harus memiliki ketrampilan yang bisa ”dijual.” Kalimat tersebut muncul dari analog, jika seorang mahasiswa teknik sipil misalnya, ketika dia keluar dari kuliah maka dia memiliki sesuatu yang bisa ”dijual” untuk hidup, yaitu keterampilannya untuk merencanakan pembangunan suatu bangunan dan tentunya beserta gambar desain untuk bangunan tesebut.

Begitu pula dengan mahasiswa pertanian, ketika keluar dari kuliah dia bisa ”meng-uang-kan” pengetahuannya yang berkaitan dengan pertanian, entah entah dia harus bekerja pada suatu intitusi, entah apakah dia harus menjadi tuan bagi tubuhnya dengan menjadi seorang yang berwirausaha atau entah apakah dia harus memenjarakan dirinya sebagai seorang PNS di pemerintahan. Yang jelas dia tetap memiliki sesuatu yang dapat dijual. Atau jika kita melihat mahasiswa psikologi, ketika dia keluar kuliah banyak hal yang bisa dikerjakan untuk dirinya dengan ”menjual” sesuatu yang ada dalam dirinya. Misalnya dia bisa menjadi seorang guru terapis pada sekolah khusus, dia juga bisa mendirikan lembaga konseling (baca: mengurus orang-orang yang bermasalah dengan jiwanya, he he..), dia juga bisa menjadi konsultan psikologi pada sebuah rubrik di media masa.

Nah, kemudian pertanyaannya adalah, apakah yang bisa ”dijual” oleh anak-anak PTAI untuk bertahan hidup? Selain mencicipi ”kue” suguhan pemerintah kepada anak-anak PTAI, dengan memberikan kesempatan sebagai PNS yang paling banter hanya di Depag –tapi bukan kependekan dari Departemen Agak Gimana lho…he he– kira-kira apakah yang bisa dikerjakan? Jelas ketika kita belajar di PTAI maka yang kita pelajari adalah islamic studies, lebih mengarah kepada kajian teoritis dan tidak terlalu aplikatif. Misalnya anak tafsir hadits/ushuluddin ketika keluar dia mau ”berjualan” apa? Apakah harus berjualan al-Qur’an di terminal ataukah harus berkeliling menjajakan kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an? Atau menjadi Ustadz di TPA/TPQ? Atau menjadi qori’/qori’ah? Kalau hanya begitu saja tidak usah kuliah di tafisr hadits, tetangga saya saja tidak ”makan sekolah” juga bisa hidup dan menghidupi keluarga dengan berjualan kaligrafi. Lantas bagaimana? Selain itu misalnya anak mu’amalah, ketika kelar dari kampus apa yang bisa diperbuat? Menjadi seorang pengusaha? Ah, tidak perlu kuliah di mu’amalah kalau mau jadi yang satu ini. Menjadi staf di BMT/Bank Syari’ah? Jelas tidak terlalu nyambung, karena di mu’amalah yang dipelajari adalah hukum ekonomi Islam bukan ekonomi Islam secara praktis. Lantas mau jadi apa? Atau anak tarbiyah PAI,  selain jadi sukwan guru –digugu lek ra kleru, he he– di sekolah suasta, apa yang bisa mereka perbuat? Masih mending anak tarbiyah PBA dan Tadris Inggris, setelah lulus jika mau daftar TKI lebih memiliki potensi dan kapasitas, pasti gajinya lebih besar, karena jelas-jelas masih memiliki ketrampilan, he he. Atau jika kepepet, bisa mendirikan tempat kursus bahasa Arab atau bahasa Ingris. Lantas bagaimana dengan teman-teman di dakwah dan adab?

Dari sinilah sebenarnya munculnya gagasan tentang berbicara dan menulis adalah hal yang niscaya dikuasai bagi teman-teman PTAI. Untuk ketrampilan berbicara, saya sudah bisa merasakan akibatnya, he he. Yaitu saya bisa bekerja di Depsos RI (Departemen Sok Sial? He he), sesekali bisa ndosen di STAIN atau ngabdi di perguruan tinggi milik Tremas. Untuk keterampilan menulis, saya rasa momen inilah yang tepat untuk membicarakannya.

Mengenal Jurnalistik: Kesempatan untuk Belajar Menulis

Sebelum kita berdisukusi lebih dalam. Tarik nafas dalam-dalam dan bersiap-siaplah saya akan memberondong Anda dengan rentetatan pertanyaan yang harus dijawab.[2] Pernakah Anda merasa sedih ketika melihat kejadian sosial yang menyedihkan, seperti pertikaian, pembunuhan ataun pemerkosaan? Pernahkan Anda merasa iba melihat penderitaan orang lain? Pernahkah anda merasa gelisah ketika melihat suatu kejadian yang tidak pada tempatnya? Bersedihkah Anda menyaksikan dekadensi moral remaja kita yang semakin hari semakin meningkat? Pernahkah Anda merasa iri ketika teman Anda berpacaran? Apakah Anda sering gelisah? Apakah juga sering melamun? Apakah Anda pernah atau bahkan sering sulit tidur? Apakah Anda suka membaca buku bacaan, puisi, artikel, cerpen, novel? Apakah Anda suka membaca majalah dan koran? Apakah Anda suka membaca buku rujukan matakuliah? Jika Anda diajar dosen yang tidak menyenangkan kemudian suka iseng coret-coret di halaman buku catatan Anda? Apakah Anda suka mengungkapkan perasaan hati melalui sebuah puisi, mungkin pada saat jatuh cinta, saat putus cinta atau mungkin pada saat bokek, he he? Apakah Anda suka mengungkapkan perasan hati melalui buku harian? Apakah Anda merasa sering tertanggu dengan kegiatan orang lain yang Anda rasakan aneh? Ketika Anda menonton film atau sinetron, pernahkah Anda hanyut ke dalam cerita sampai menangis misalnya, atau ikut memaki-maki aktor yang tidak Anda sukai? Sukakah Anda kepada acara bincang-bincang, diskusi atau debat di TV? Pernahkah sesekali waktu Anda terbesit untuk menjadi seorang penyair? Menjadi pengarang? Menjadi pendakwah? Menjadi guru bahasa Indonesia?

Kata Kang Tedjo, penulis kelas nasional sekaligus ketua Litbang NU Ponorogo yang juga dosen STKIP PGRI Ponorogo, jika dari sekian banyak pertanyaan di atas lebih banyak jawaban ”ya” dari pada ”tidak”-nya maka sebenarnya Anda memiliki bakat menulis (atau lebih tepatnya sebagai penulis) yang sungguh sayang jika harus diabaikan begitu saja.[3] Bakat adalah sebuah anugrah dan nikmat. Jika kita biarkan dan abaikan begitu saja maka sebenarnya kita termasuk orang yang suka memubadzirkan sesuatu. Padahal kata Tuhan, dalam ayatnya, orang-orang yang suka memubadzirkan sesuatu adalah temannya setan, dan padahal setan itu telah kufur kepada Tuhannya –wah kalau begini jadi kelihatannya tafsir hadits-nya ya? He he. Kenapa menulis? Siapapun tidak akan menolah jika saya katakan bahwa menulis merupakah roh bagi dunia jurnalistik itu sendiri.

Sekarang marilah bergerak lebih ke dalam lagi, seperti berjalan dalam goa saja, he he. Marilah berkenalan dengan istilah jurnalistik. Menurut Kang Asep Syamsul Romli (bukan Asep Markesep, he he, jadi teringat si Sule –Sunda Bule) dalam bukunya Jurnalistik Praktis untuk Pemula (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005), istilah jurnalistik berasal dari kata journal atau dujour yang berarti hari, dimana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam lembaran tercetak. Masih menurut Kang Asep, dalam kamus bahasa Inggris, journal diartikan sebagai majalah, surat kabar dan diary (buku catatan harian). Sedangkan journalistic diartikan kewartawanan (warta= berita,  kabar).[4] Masih tentang istilah, menurut Kang Tedjo istilah jurnalistik berasal dari bahasa Perancis. Kata dujour yang berarti hari. Sedangkan kata journal berarti catatan harian. Catatan harian yang bagaimana? Tentu, yang menarik dan penting untuk diinformasikan.[5] Dalam dunia jurnalistik kita juga sering mendengar istilah pers, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan pers secara dasariah? Kembali kepada Kang Asep, kata dia karena kemajuan teknologi dan ditemukannya percetakan surat kabar dengan sistem silender (rotasi), maka istilah ”pers” pun mucul. Sehingga orang lalu mengidentikkan istilah jurnalistik dengan pers, yang dalam bahasa Inggris (press) berarti mesin cetatk, mencetak, orang-orang yang terlibat dalam kepenulisan atau produksi berita dan sebagainya.[6]

Kang Tedjo berpendapat bahwa di era komunikasi mutakhir didapati dengan silang sengkarut yang tidak terbendung. Komunikasi itu, pada akhirnya menempatkan jurnalisme sebagai panglima perang pengetahuan yang paling handal. Untuk itu, siapa yang mampu menguasai komunikasi (dunia jurnalisme) dialah yang akan menang.[7] Dari sisi ilmu komunikasi, jurnalistik merupakan praktek komunikasi yang paling menonjol. Dari sini maka menjamurnya media masa merupakan sesuatu yang wajar. Selain itu bisa diandaikan jurnalistik memberikan gambaran bahwa demikian strategis posisinya dalam peta komunikasi masa.[8]

Lantas dengan demikian istilah jurnalistik sendiri secara lebih luas dapat kita tafsirkan bagaimana? Secara sederhana, menurut Kang Asep, jurnalistik dipahami sebagai ”proses kegiatan meliput, membuat dan menyebarluaskan peristiwa (news) dan pandangan (views) kepada khalayak melalui saluran media massa (cetak atau elektronik).” Pelakunya disebut jurnalis.[9] Dari pengertian ini dapat digambarkan bagimana mengelola atau menyusun sebuah konsep kerja jurnalistik. Yaitu, pertama, meliput dan membuat news dan views. Kedua, menyebarluaskannya kepada khalayak. Yang pertama merupakan sisi ideal sebuah media, sedangkan yang kedua merupakan sisi komersial sebuah media.[10]

Sedangkan menurut JB. Wahyudi:

Ilmu jurnalistik adalah salah satu ilmu terapan (applied science) dari ilmu komunikasi, yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita menjadi karya jurnalistik, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.

Proses jurnalistik adalah setiap kegiatan mencari mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.

Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan/atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.[11]

Untuk itulah segala bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa cetak, merupakan karya jurnalistik. Sedangkan media massa periodik dipersyaratkan agar memiliki syarat untuk dianggap layak sebagai media massa periodik. Syarat-syarat tesebut adalah publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas.[12]

Pelangi di Dunia Jurnalistik dan Media Massa

Pelangi Pertama (Dunia Jurnalistik)

Anda pernah melihat pelangi? Ada berapa warna? Warna apa sajakah yang Anda sukai? Warna apa yang paling Anda gandrungi? Mengapa? Bagaimana dengan orang lain? Warna apa yang mereka sukai? Kenapa Anda tidak mengikuti pendapat mereka untuk menyukai sebuah warna yang ada di pelangi? Atau jangan-jangan anda tidak menyukai sama sekali warna-warna yang tergores di pelangi? Jawaban dari serangan pertanyaan ini terserah Anda, tidak ada yang memaksa. Pasti setiap orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Dan jawaban masing-masing orang bisa sama, bisa sama sebagian ataupun berbeda sama sekali. Dengan begitu jelaslah bahwa subyektivitas merupakan anugerah Tuhan yang benar-benar indah.

Dalam kajian jurnalistik, konsep pelangi di atas juga bisa digunakan untuk melihat kenyataan praktek jurnalisme di kehidupan kita. Lebih gamblangnya dapat dikatakan bahwa dalam dunia jurnalistik ada ketidakseragaman, ada ketidaktunggalan, dan tentunya ada keberagaman. Baiklah sekarang akan saya paparkan bukti tersebut dengan mengekplorasi jenis-jenis jurnalistik, merujuk pada Dedy Djamaluddin Malik:

Jazz Journalism. Jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan pada hal-hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gosip dan rumor.

Adversary Journalism. Jurnalistik yang membawakan misi penentangan atau permusuhan, yakni beritanya menentang terus pemerintah atau penguasa (oposisi).

Government-say-so-Journalism. Jurnalistik yang memberitakan atau meliput apa saja yang disiarkan pemerintah layaknya koran pemerintah.

Checkbook Journalism. Jurnalistik yang untuk memperoleh bahan beritanya harus memberi uang pada sumber berita.

Alcohol Journalism. Jurnalistik liberal yang tidak menghargai urusan pribadi seseorang atau lembaga.

Crusade Journalism. Jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, misalnya demokrasi, nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebenaran.[13] Atau menurut Septiawan Santana K. jenis ini bisa juga disebut sebagai ”jurnalisme jihad.”[14]

Menurut Dja’far H. Assegaf, jenis-jenis jurnalistik terbagi ke dalam:

Elektronic Journalism (jurnalistik elektronik), yakni pengetahuan tentang berita-berita yang disiarkan melalui media massa modern seperti film, TV, radio kaset, dsb.

Junket Journalism (jurnalistik foya-foya), yaitu praktik jurnalistik yang tercela, yakni wartawan yang mengadakan perjalanan jurnalistik atas biaya dan perjalanan yang berlebihan yang diongkosi oleh si pengundang.

Gutter Journalism (jurnalistik got).  Yaitu teknik jurnalistik yang lebih menonjolkan pemberitaan tentang seks dan kejahatan.

Gossip Journalism (jurnalistik kasak-kusuk). Yaitu jurnalistik yang lebih menekankan pada berita-berita kasak-kusuk dan isu yang kebenarannya masih sangat diragukan (”koran gosip”).

Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya.[15] Untuk yang terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa (media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.[16]

Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997.[17] Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.

Pelangi Kedua (Media Massa)

Dalam tulisan di atas terlihat bahwa jurnalistik elektronik dimasukkan dalam jenis tersendiri. Sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami bahwa media massa elektronik merupakan media massa yang muncul belakangan setalah media massa cetak, karena pengaruh dari modernitas dan perkembangan teknologi. Baiklah di ”pelangi kedua” ini kita akan melihat pemaparan JB. Wahyudi[18] yang begitu cerdas mengurai serta membedakan praktek jurnalistik yang dilakukan di media massa yang berbeda. Dalam konteks ini kita akan melihat pemaparannya tentang media massa cetak, radio dan TV. Gagasannya berikut disampaikan dalam tabel:

No

Media Cetak

Media Radio

Media TV

1

Proses percetakan Proses pemancaran/tranmisi Proses pemancaran/tranmisi

2

Isi pesan tercetak, dapat dibaaca dimana dan kapan saja. Isi pesan audio dapat didengar sekilas sewaktu ada siaran Isi pesan audiovisual dapat dilihat dan didengar sekilas sewaktu ada siaran

3

Isi pesan dapat dibaca berulang-ulang Tidak dapat diulang Tidak dapat diulang

4

Hanya menyajikan peristiwa/pendapat yang telah terjadi Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang telah dan sedanng terjadi

5

Tidak dapat menyajikan pendapat narasumber secara langsung (audio). Dapat menyajikan pendapat (audio)  narasumber secara langsung (orisinal) Dapat menyajikan pendapat (audiovisual)  narasumber secara langsung (orisinal)

6

Penulis dibatasi oleh kolom dan halaman Penulisan dibatasi oleh detik, menit dan jam Penulisan dibatasi oleh detik, menit dan jam

7

Makna berkala dibatasi oleh hari, minggu dan bulan Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam

8

Distribusi melalui transportasi darat/laut/udara Distribusi melalui pemancar/tranmisi Distribusi melalui pemancar/tranmisi

9

Bahasa yang digunakan (cenderung) formal Bahasa yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur) Bahasa yang digunakan formal dan nonformal (bahasa tutur)

10

Kalimat dapat panjang dan terperinci Kalimat singkat, padat, sederhana dan jelas Kalimat singkat, padat, sederhana dan jelas

Empat Dasar Manajemen Media Massa

Pertama, yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang akan mengelola penerbitan media massa adalah menentukan visi dan misi serta menentukan jenis jurnalistik yang dipilih (pilihan lihat pada ”pelangi pertama”). Kedua, melakukan positioning, yaitu penentuan pangsa pasar atau sasaran pembaca (konsumen). Positioning atau penentuan target pasar ini akan menuntun bagian redaksi dalam memilih dan menyajikan berita. Langkah ini kemudian diikuti dengan menciptakan atau membina ”pembaca perintis”.  Adapun tahap-tahap yang dapaat dilakukan sebuah media untuk eksis dan menjadi besar anatar lain:

  1. Menumbuhkan fanatisme pembaca.
  2. Menciptakan kesetiaan pembaca.
  3. Menjadikan media tersebut sebagai labang status atau ”gengsi,” dimana pembaca merasa bangga membeli dan membaca media tersebut.

Tahapan-tahapan ini biasanya dilakukan dengan dukungan, sebuah survei pembaca, untuk mengetahui keinginan dan aspirasi mereka.

Ketiga, memperhatikan betul empat P (4P):

  1. Product, kualitas media, meliputi rubrikasi, isi berita, layout/setting, artistik, perwajahan (cover), dan sebagainya sehingga menarik dan dibeli/dibaca orang.
  2. Promotion, yaitu upaya media tersebut menarik minat orang untuk membeli dan membaca (berlangganan).
  3. Please, yaitu kualitas pelayanan media tersebut, dalam hal ini bagian sirkulasi, untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan orang untuk mendapatkan media yang bersangkutan. Juga bisa berarti kualitas pelayanan redakasi atau bagian lain terhadap pembaca.
  4. Price, yaitu harga media tersebut, apakah terjangkau oleh pembeli, sesuai dengan kualitas produk dan pelayanan, dan sebagainya.

Keempat, eksistensi media juga bergantung pada kondisi internal media itu sendiri. Media yang baik dan prospektif untuk maju dan besar, antara lain memperhatikan penuh tiga kunci sukses sebuah media (3S):

  1. Sehat SDM, yakni tenaga-tenaga pengelola media tersebut berkualitas dan profesional di bidangnya, yang ditunjang dengan gaji yang memadai bagi mereka.
  2. Sehat Manajemen, yakni manajemen media tersebut dilakukan dengan baik, terencana, terarah dan terkendali.
  3. Sehat Sarana, yakni terpenuhinya sarana atau segala fasilitas yang diperukan bagi kelancaran kerja media tersebut.

Anda Bingung setelah Mengikuti Pelatihan Jurnalistik?

Ya, pasti memang Anda harus bingung. Dari kebingungan itulah semoga menjadi awal yang baik bagi Anda untuk menggeluti dunia jurnalistik. Anda tidak usah resah dengan kebingungan Anda itu. Nikmati saja dulu! Kemudian perlahan tapi pasti Anda harus memiliki mental sebagai seorang pembelajar sejati.  Artinya, belajarlah dengan rajin, he he. Seperti anak SD saja.. Maksud saya, Anda harus terus memompa kapasitas Anda dengan membaca, diskusi dan yang paling penting adalah menulis.  Semoga cuap-cuap saya di atas bermanfaat bagi Anda. Do the best and be a winer, good luck..[*]

Wa fawqa kulli dzî ’ilm ’alîm…

Bantaran Kali Keyang, 26 Desember 2009, 09.30 WIB.


[1] Pernah “bersekolah” sebentar di LPM Almilah, Social Worker pada Departemen Sosial RI bertugas di Kabupaten Ponorogo,  Dosen Ma’had ’Aly Al-Tarmasy Pacitan, Dosen Luar Biasa STAIN Ponorogo dan Ketua PC. Lakpesdam NU Ponorogo (www.lakpesdam-ponorogo.org).

[2] Rentetan pertanyaan ini merujuk pada Sutedjo & Sumarlan, Jurnalistik Plus 1: Kiat Merentas Media dengan Ceria (Yogyakarta: Nadi Pustaka, 2008), 1-2.

[3] Ibid.

[4] Asep Syamsul Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2005), 99.

[5] Sutedjo & Sumarlan, Jurnalistik…, 21.

[6] Asep Syamsul Romli, Jurnalistik…, 99-100.

[7] Sutedjo & Sumarlan, Jurnalistik…, 17-18.

[8] Ibid.

[9] Asep Syamsul Romli, Jurnalistik…,100.

[10] Ibid.

[11] JB. Wahyudi, Dasar-DasarJurnalistik Radio dan Televisi (Jakarta: Grafiti, 1996), 1.

[12] Ibid, 2.

[13] Dedy Djamaluddin Malik dkk. (Ed.), Komunikasi Internasional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), 198.

[14] Septiawan Santana K., Jurnalisme Investigasi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), 1-15.

[15] Dja’far H. Assegaf, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Praktek Kewartawanan (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), 119.

[16] Septiawan Santana K., Jurnalism…, 11-16.

[17] Bondan Winarno, “Daya Bertanya, Pertanyaan Berdaya,” dalam Septiawan Santana K., Jurnalisme Investigasi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), XV.

[18] Sebagimana dirujuk Kang Tedjo dalam Sutedjo & Sumarlan, Jurnalistik…, 28.

About the Author