Ragam Ekspresi Warga Ponorogo Mewarnai “Pulangnya” Gus Dur

Ponorogo, 30/12/09. Berita meninggalnya K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita dengan sebutan Gus Dur, sontak segera memacu para warga Nahdliyin di Ponorogo untuk menggelar berbagai acara, yang bagi mereka mereka merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada Gus Dur. Tidak saja dari kalangan santri dan kiyai saja, akan tetapi juga dari teman-teman PLO kantor NU Ponorogo, juga dari kalangan intelektual muda NU yang bersarang di Lakpesdam dan Litbang NU Ponorogo, dan tentunya dari semua lapisan masyarakat baik yang secara kultural maupun struktural bergabung di NU maupun yang hanya bersimpati kepada Gus Dur secara personal, misalnya para seniman dan sastrawan di Ponorogo.

Ragam eksprsi ini antara lain, pada Rabu Malam mulai pukul 22.00 WIB para PLO kantor NU dan Full Timer Kantor NU khataman al-Qur’an hingga menjelang subuh. Acara ini dihadari tidak kurang dari 30 orang. Suasana haru dan duka pun ikut menyelimuti acara pada malam itu. Berbeda hal itu, di sebuah warung kopi di Jalan Menur, tempat mangkalnya para aktivis NGO, sastrawan, seniman dan pekerja pers, sejak Rabu Malam hingga tulisan ini dipublikasikan, tidak henti-hentinya siapapun yang datang di situ membicarakan sosok Gus Dur yang kontroversial. Meskipun hanya sebatas obrolan yang ringan dan sederhana, akan tetapi mampu menjadikan tempat berbagi untuk mengenal Gus Dur lebih dekat. Dalam obrolan mereka, sosok Gus Dur tidak hanya dipandang hanya dari satu sudut pandang saja, misalnya politik. Akan tetapi sosok Gus Dur juga dibaca dari segi seni-budaya, pemikiran, perjuangan, tabiat, humor dan tentunya aksi-aksi usilnya mengerjai siapapun.

Tidak mau ketinggalan, Lakepsdam dan Litbang NU Ponorogo, yang terlanjur dilabeli sebagai lokomotif yang paling progesif di NU Ponorogo. Pada malam tahun baru 2010 menggelar acara dengan tema “Bedah Gus Dur”. Acara ini dihelat dengan melibatkan para intelektual muda NU Ponorogo. Selain itu, juga mengundang para aktivis mahasiswa, ormas lain dan akademisi. Acara ini memang dikhusukan untuk membedah sosok Gus Dur secara lebih terbuka dan obyektif. Acara diharapkan menjadi ruang untuk berbagi dan bercerita tentang sosok Gus Dur. Bagi intelektual muda NU, Gus Dur lah orang yang ikut menggeser pendulum dunia pemikiran NU, yang  semula masih stagtan dan kolot menuju dunia pemikiran yang lebih progresif dan kritis. Peran inilah yang cukup dikagumi mereka.

Sosok Gus Dur memang siapapun bebas untuk menafsirkan dan dari sudut pandang manapun. Politisi, akademisi, spiritualis, pekerja budaya dan seni, pekerja pers, kiyai, militer, pengusaha, santri, buruh, tani dan lain sebagainya memiliki cara dan sudut pandang yang khas dalam melihat Gus Dur. Gus Dur engkau adalah sebuah “teks” yang multi tafsir, engkau adalah dentuman kebebasan dan keragaman, engkau adalah pahlawan bagi siapapun, engkau adalah ruang untuk merayakan perbedaan. Semoga apa yang telah engkau pikirkan dan engkau perbuat menjadi pil penambah nafsu bagi rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih baik.