Belajar dan Terus Belajar: Gus Dur Sosok Pembelajar Sejati dan Sangat Inspiratif

Oleh: Rima Tri Pratiwi

Ibu Rumah Tangga & Alumni Sosial Ekonomi Perikanan Unibraw Malang

Meninggalnya Gus Dur membuat saya merasa sangat kehilangan , meskipun saya baru mulai mengagumi sosok Gus Dur satu tahun terakhir ini. Saya mengenal gagasan dan sosok Gus Dur lebih dekat dari tulisan-tulisan Gus Dur koleksi suami saya. Dalam tulisan-tulisan yang tersebar di beberapa media massa dan dari berbagai tahun tersebut, ada satu kesan mendalam bagi saya dalam melihat dan memahami Gus Dur. Bagi saya, beliau adalah pembelajar sejati dan sosok yang sangat inspiratif bagi siapapun. Nah, gagasan di bawah ini adalah amatan saya terhadap Gus Dur, dimana di dalamnya saya benar-benar berhutang budi pada Gus Dur.

Konon, katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dulu, yang saya pahami dari kata ”belajar” adalah kegiatan yang berkaitan dengan ujian di sekolah. Dengan demikian, menurut saya jika sekolah libur maka libur pula belajarnya. Baru sekarang saya mengerti makna yang lebih luas dari ”belajar”.

Eh, ternyata belajar itu tidak melulu berkaitan dengan sekolah lho, dia lebih berkaitan dengan ”hidup”. Sepertinya hidup memang rangkaian dari pelajaran. Apapun.

Coba deh kita ingat, kapan kita mulai belajar? Dan apakah sudah berhenti proses belajar kita sampai detik ini? Begini, saya akan menyampaikan pendapat saya. Jika sepakat, anda boleh menganggukkan kepala. Akan tetapi, jika anda kurang atau bahkan tidak sepakat sama sekali, ya.. itu hak anda. Beda kan boleh, bukan begitu?

Sejak sebelum dilahirkan, bayi sudah belajar mengolah perasaan. Menurut ahlinya bayi dalam kandungan mampu mengerti dan memahami perasaan dan kondisi emosi ibunya. Jika ibu dalam kondisi stres bayinya juga akan stres. Dan sebaliknya, jika ibu bahagia bayipun akan bahagia. Bayi ini mampu menunjukkan ekspresi senyum dan mengedipkan kelopak mata. Nah kemudian, setelah lahir dan memasuki masa pertumbuhan serta perkembangannya menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa, maka dia akan mengalami ”banyak hal” yang jika dia mampu memahami bahwa ”banyak hal” itu adalah media belajar, maka dia akan menyadari bahwa sepanjang perjalanan hidupnya adalah proses belajar.

Dalam hal ini, saya termasuk yang baru bisa memahami bahwa kita akan terus belajar sampai jatah hidup kita selesai. Dan saya yakin bahwa saya belum terlambat.

Melihat, mendengar dan merasa, dari situ kita belajar. Melihat apapun, mendengar apapun dan coba kita rasakan. Jika sesuatu tersebut sesuai dengan nilai kebaikan universal, maka layak untuk kita terima dan jika perlu kita kembangkan pula. Sebaliknya jika bertentangan dengan nilai kebaikan universal, maka cukuplah untuk kita sekedar tahu dan tentu saja kita hindari.

Jadi, sudahkah hari ini kita belajar?

Bantaran Kali Sekayu, 1 Januari 2010

(Selamat jalan Gus! Semoga perjalananmu ”menyenangkan”)

About the Author