Kembali Merenung

Judul buku        : Renung dan Canda Pelawak Bersorban
Pengarang         : Nugroho Suksmanto
Penerbit             : koekoesan
Tempat terbit  : Depok
Tahun terbit     : 2008
Ukuran Buku     : x + 127 halaman, 11 x 18 cm
ISBN                     : 978-979-1442-12-1

Buku ini penuh dengan bahan-bahan yang layak untuk menjadi renungan bagi siapapun yang membacanya. Puisi dan anekdot yang digunakan, menjadikannya mudah diterima oleh pembaca. Merenung dan sekaligus bercanda atau bisa jadi sebaliknya, bercanda sekaligus merenung. Nugroho Suksmanto sengaja memberikan kebebasan bagi pembaca untuk memilih. Dia berkata bahwa yang dimaksud dengan renung di sini bukanlah usaha untuk mencari kebenaran apalagi pembenaran, tetapi lebih bertujuan untuk menggugah perasaan, agar kita mampu untuk lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan. Canda pun bukan ditujukan untuk meruntuhkan sakralitas sebuah agama tetapi hanya untuk mencairka suasana, agar kita tidak tercekam oleh bayangan tirani sebuah religi yang sering membuat kita menjadi kerdil karena wawasan yang sempit.

Puisi pembuka yang berjudul “Tuhanku”, mengajak kita untuk kembali merenungi keberagamaan kita. Bagaimana kita telah menafsiri agama masing-masing yang tentu saja sarat dengan berbagai kepentingan. Dalam “Makna di atas Fakta” disampaikan bahwa dalam beragama, makna lebih penting daripada fakta, hakikat lebih bermakna dari syariat dan Tuhan hadir dalam keyakinan bukan dalam kenyataan. Dan apabila kita bingung dalam bersikap atau mengambil keputusan, anekdot “Panggilan” bisa kita jadikan renungan. Cara membedakan panggilan Tuhan dan panggilan setan adalah apabila Tuhan yang memanggil, pasti meminta kita untuk membuat orang lain senang dalam kemudahan dan kesejahteraan. Jika untuk membuat orang lain susah dalam kesulitan dan kesengsaraan, itu pasti panggilan setan.

Nugroho Suksmanto juga berbicara tentang kehidupan dan kematian. Dalam ”Kematian adalah Kemenangan” bercerita tentang kematian seorang sufi yang sesungguhnya adalah sebuah kemenangan. Karena kematiannya akan terus memberikan inspirasi dan merasuki pikiran mereka-mereka yang mengembangkan iman dan taqwa tidak dengan dogma, tapi dengan wawasan dan cinta.

Polemik tentang poligami juga dibicarakan di sini. Bagi kebanyakan perempuan yang tidak mau dimadu, pasti akan menyepakati bahwa poligami masa kini merupakan sebuah pengkhianatan atas janji dan kesetiaan dari suami kepada istri yang dengan kodrat dan segala kelemahannya sudah berusaha sekuat tenaga untuk terus mendampingi suami.

Kemudian canda dan penjelasan guru sufi tentang penghargaan kepada orang lain termasuk dalam hal kepercayaan, juga cerita tentang kebaikan orang-orang atheis Kanada selayaknya bisa membuat orang-orang yang mengaku beragama kembali merenung.

Ponorogo, 09 Januari 2010
Diresensi oleh: Rima Tri Pratiwi
www.rumah-cerdas-rausyankari.blogspot.com