Model Pendidikan Alternatif

Judul buku        : Lebih Baik Tidak Sekolah
Pengarang          : Sujono Samba
Penerbit               : LkiS
Tempat terbit    : Yogyakarta
Tahun terbit       : 2007
Ukuran Buku      : xviii + 94 halaman; 12 x 18 cm
ISBN                     : 979-25-5259-6

Gelisah dengan model pendidikan yang ada di negeri ini memunculkan pandangan bahwa dari pada ”tidak jelas” maka lebih baik tidak sekolah saja. Ketidak jelasan ini maksudnya adalah seperti yang diungkapkan Sujono Samba yaitu ketidak jelasan ideologi dan identitas pendidikan di Indonesia.

Buku ini menyajikan data tentang posisi kualitas pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain di dunia. Diantaranya adalah laporan dari United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2005 tentang Human Development Index (HDI) Indonesia yang menduduki peringkat ke 110 dari 177 negara, dibawah Vietnam, Philipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Dari penelitian Asian South Pacific Beurau of Adult Education dan Global Campaign for Education pada bulan Maret-Juni 2005 ditemukan bahwa kualitas guru di Indonesia rendah. Indonesia diberi nilai E dan menduduki peringkat 14 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Sementara untuk prestasi siswa, studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement di Asia Timur menunjukkan bahwa ketrampilan membaca siswa  kelas IV SD berada pada peringkat terendah dibawah Hongkong, Singapura, Thailand dan Philipina. Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan sulit menjawab soal-soal yang berbentuk uraian dan memerlukan penalaran.

Sujono Samba mengemukakan bahwa sejatinya pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kehidupan akan berkembang jika ada pemerdekaan dan pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika tidak ada suasana memerdekakan.

Berikut adalah prinsip-prinsip dari konsep pendidikan alternatif yang disampaikan Sujono Samba, yaitu dilandasi dengan semangat pembebasan serta perubahan ke arah yang lebih baik, keberpihakan pada  keluarga miskin, metodologi yang dibangun berdasarkan kegembiraan siswa dan guru dalam proses pembelajaran serta mengutamakan partisipasi dan komunikasi sehat antara pengelola pendidikan, guru, siswa, wali siswa, masyarakat dan lingkungan dalam merancang bangun sistem pendidikan yang realistis sesuai dengan kebutuhan.

Seharusnya, pendidikan bisa mengantarkan seseorang menjadi manusia yang berkualitas. Dengan pemakain ukuran kualitas yang bukan hanya dari nilai sepuluh atau A dalam transkrip nilainya, tetapi lebih pada kemampuan dalam memecahkan persoalan hidup, memahami potensi diri, percaya diri, kreatif, mandiri, beretika dan terus bersemangat dalam mengembangkan pengetahuan untuk hidup sejahtera dan bermanfaat bagi orag lain.

Ponorogo, 03 Pebruari 2010
Diresensi oleh: Rima Tri Pratiwi
(Inisiator Rumah Cerdas Rausyankari)