Senin, 22 Maret 2010 | 03:10 WIB
MAKASSAR, KOMPAS – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan baru akan membuka Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (23/3) siang besok. Namun, saling klaim dukungan oleh para calon ketua umum Pengurus Besar NU, baik dari penguasa maupun dari kaum nahdliyin, terus memanas.
Suasana semarak tampak di Celebes Convention Center, tempat pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), kemarin. Berbagai spanduk digelar. Penjagaan juga mulai ketat. Presiden memberi waktu khusus untuk membuka Muktamar NU. ”Berangkat pukul 08.00 WIB, pulang sore harinya pukul 15.00 Wita. Kunjungan kerja Presiden itu hanya menghadiri pembukaan Muktamar NU,” tutur Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha.
Asrama Haji Sudiang, salah satu arena muktamar, mulai didatangi rombongan peserta muktamar. Hingga Minggu malam, hampir 2.000 peserta mendaftarkan diri. Sejumlah Pengurus Wilayah (PW) NU yang sudah tiba, antara lain, PW Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Selatan. Pengurus Cabang Internasional (PCI) NU yang telah mendaftar adalah PCI Taiwan, PCI Sudan, PCI Inggris, dan PCI Arab Saudi.
Hari Senin ini, kegiatan muktamar sudah dimulai, tetapi lebih berupa rapat-rapat internal Pengurus Besar NU (PBNU) dan pertemuan dengan tamu-tamu.
Klaim para calon
Dalam muktamar ini, paling tidak ada tujuh calon ketua umum tanfidziyah PBNU yang akan bersaing. Dari luar struktur NU adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid, Slamet Effendy Yusuf yang sekarang adalah Ketua Bidang Hubungan Antaragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, anggota DPR dari PKB KH Ali Maschan Moesa, dan tokoh muda NU Ulil Absar-Abdalla. Dari kalangan struktural PBNU adalah KH Masdar F Mas’udi, Ahmad Bagja, dan KH Said Aqil Siradj (ketiganya sekarang Ketua PBNU).
Untuk posisi Rais Aam (Ketua Umum) Syuriah PBNU, sejauh ini muncul dua nama, yaitu KH Ahmad Sahal Mahfudh (sekarang Rais Aam Syuriah) dan KH Hasyim Muzadi (sekarang Ketua Umum Tanfidziyah PBNU).
KH Said Aqil Siradj, Sabtu lalu, terang-terangan mendapat ”dukungan” dari Presiden Yudhoyono (Kompas, 21/3).
Aizzuddin Wahid, tim sukses KH Salahuddin Wahid, mengklaim KH Salahuddin telah mendapat dukungan dari 145 pengurus cabang dan 175 kiai. Aizzuddin optimistis Gus Solah, sapaan akrab KH Salahuddin Wahid, terpilih. ”Mayoritas kiai yang mendukung Gus Solah mempunyai anak asuh pejabat pengurus cabang. Mereka otomatis memberikan dukungan sesuai permintaan kiai,” tutur Aizzuddin di Asrama Haji Sudiang.
Selain itu, Gus Solah prihatin dengan kondisi NU dalam peta politik di Tanah Air. ”Saat ini, NU tampak begitu mudahnya terlibat dalam politik. Bahkan, kadang kala keterlibatan tanpa meminta restu dari kiai sesuai tujuan awal NU didirikan. Hal ini membuat Gus Solah prihatin dan bertekad membawa NU kembali ke khitahnya,” ungkap Aizzuddin.
Agresivitas kubu Gus Solah semakin tampak ketika puluhan spanduk terpampang di sekitar kawasan asrama haji. Bahkan, kubu Gus Solah berani menampilkan sosok sejumlah kiai yang turut mendukung dalam beberapa spanduk.
Dukungan kepada sejumlah kandidat juga disampaikan para peserta yang baru tiba di Asrama Haji Sudiang. Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU (PCNU) Kepulauan Sula, Maluku Utara, Akhir Umahuk menuturkan, Gus Solah dan KH Said Aqil Siradj merupakan kandidat yang santer dibicarakan oleh delapan PCNU di Maluku Utara. ”Tetapi, Gus Solah cukup intens berkunjung dan menyampaikan sosialisasi di wilayah Maluku Utara,” ujarnya. Sementara Ketua Dewan Tanfidziyah PCNU Timor Tengah Selatan, NTT, Nurdardjito condong memilih Slamet Effendy Yusuf. ”Selama ini hanya Slamet yang pernah memaparkan visi dan misi di NTT,” kata Nurdardjito.
Tim sukses Ulil Absar-Abdalla juga mengirim siaran pers, semalam. Namun, ia tidak berbicara klaim dukungan, tetapi ke substansi muktamar. ”Sudah saatnya NU bergerak dari moderasi statis ke moderasi dinamis,” kata Ulil dalam siaran pers itu.
Berikan kedamaian
Di luar isu kepemimpinan PBNU, Rais (Ketua) Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir mengingatkan, nilai-nilai dasar organisasi NU harus tetap dipegang teguh dalam muktamar. NU harus menjadi pemersatu umat Islam, terus memperjuangkan keadilan, mengambil jalan tengah, dan tidak eksklusif.
Katib Aam (Sekretaris Umum) Syuriah PBNU Nasaruddin Umar menegaskan, NU adalah rumah bagi siapa saja. NU memiliki jarak yang sama dengan semua kekuatan politik yang ada. Karena itu, persaudaraan di antara warga NU tetap harus dijaga meskipun berbeda afiliasi politiknya. ”NU secara organisasi tidak ke mana-mana, tetapi NU ada di mana-mana,” ujarnya.
Anggota Dewan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Agus Reza Ahmad Zahid menilai, Muktamar NU di Makassar merupakan kesempatan bagi semua warga NU untuk melakukan introspeksi dan membenahi diri. ”Apa pun bidang yang ditekuni warga NU, visi dan misinya harus tetap sama, yaitu memperjuangkan kemaslahatan warga NU,” katanya.
(RIZ/DAY/HAR/MZW/SSD)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/22/03100886/para.calon.ketua.umum.saling.klaim.dukungan
