<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog LAKPESDAM NU Ponorogo</title>
	<atom:link href="http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org</link>
	<description>Institute for Human Resources Studies and Development</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Mar 2010 23:51:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Persepsi Membentuk Perilaku</title>
		<link>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/persepsi-membentuk-perilaku/</link>
		<comments>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/persepsi-membentuk-perilaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 23:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timbang Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Judul buku        : Persepsi Orang Tua Membentuk Perilaku Anak Dampak Pygmalion di Dalam Keluarga
Pengarang         : Monty P. Satiadarma
Penerbit             : Pustaka Populer Obor
Tempat terbit   : Jakarta
Tahun terbit       : 2001
Ukuran Buku      : x + 136 halaman: 21 cm
ISBN                     : 979-461-370-3
Dalam proses tumbuh kembang anak, sesuatu yang terlihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul buku        : Persepsi Orang Tua Membentuk Perilaku Anak Dampak Pygmalion di Dalam Keluarga<br />
Pengarang         : Monty P. Satiadarma<br />
Penerbit             : Pustaka Populer Obor<br />
Tempat terbit   : Jakarta<br />
Tahun terbit       : 2001<br />
Ukuran Buku      : x + 136 halaman: 21 cm<br />
ISBN                     : 979-461-370-3</p>
<p>Dalam proses tumbuh kembang anak, sesuatu yang terlihat sederhana ternyata akan memiliki akibat yang serius. Yang terjadi bisa perkembangan positif bisa pula perkembangan negatif, tergantung stimultan yang diberikan. <span id="more-191"></span>Meski tidak ada seorangpun orang tua yang ingin anaknya berkembang ke arah negatif, tetapi hal ini bisa saja terjadi. Ini sering terjadi tanpa disadari dan sangat mungkin karena kurangnya informasi yang diperoleh para orang tua.</p>
<p>Monty P. Satiadarma menjelaskan bahwa ada suatu gejala psikologis yang terjadi di dalam lingkungan keluarga yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai The Pygmalion Effect ( Efek Pygmalion ). Efek Pygmalion ini pada intinya adalah persepsi dari orang tua baik yang diucapkan dengan menggunakan lebel-lebel tertentu pada anak atau yang tidak diucapkan tetapi dicamkan di dalam diri mereka bisa menjadi kenyataan yang sesungguhnya pada diri anak. Terjadinya gejala negatif dari Efek Pygmalion di dalam keluarga ini biasanya disebabkan karena unsur ketidaksengajaan sebagai akibat dari ketidaktahuan.</p>
<p>Penyebab munculnya gejala negatif dari Efek Pygmalion adalah kebiasaan dari orang tua dalam memberikan lebel negatif pada anak-anaknya. Contoh yang sering terjadi adalah dengan menyebut anaknya pemalas, bodoh, nakal, bandel dan lebel-lebel negatif yang lain. Atribut ini secara bertahap akan tumbuh subur dan menjadi bagian dari perkembangan kepribadian anak. Anak akan tersugesti dan mengembangkan kepribadian sesuai dengan lebel yang disandangkan.   Kebiasaan lain yang akan menimbulkan perasaan sakit bagi anak-anak adalah membandingkan, mencaci, memaki dan memukul. Kerena merasa selalu salah dan disalahkan maka akibat yang terjadi kemudian adalah mereka akan diam saja, tidak berani bertanya, tidak berani mengutarakan apa-apa dan kreativitasnya pun terbenamkan.</p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya, di lingkungan keluargalah pertama kali anak mulai belajar. Belajar bersosialisasi, merespon, beradaptasi, mengembangkan kemampuan penalaran dan berimajinasi. Dalam keluarga pula kepribadiannya akan terbentuk. Berikut ini adalah pendekatan yang harus dihindari oleh orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, yaitu pendekatan dengan kecemasan, dengan kekerasan, dengan ketidak berdayaan, dengan ketergantungan, dan dengan ketidak pedulian. Sementara itu, pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan dengan keterbukaan, dengan kasih sayang dan dengan kreativitas.</p>
<p>Dengan demikian, sudah selayaknya bagi para orang tua untuk memahami bahwa anak-anak memiliki hak hidup sebagai anak-anak. Mereka berpikir, berperasan dan berperilaku sebagai anak-anak yang tentunya akan berbeda dengan cara orang tua berpikir, berperasaan dan berperilaku.</p>
<p>Ponorogo, 30 Januari 2010<br />
Diresensi oleh: Rima Tri Pratiwi<br />
(Inisiator Rumah Cerdas Rausyankari)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/persepsi-membentuk-perilaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model Pendidikan Alternatif</title>
		<link>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/model-pendidikan-alternatif/</link>
		<comments>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/model-pendidikan-alternatif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 23:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timbang Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Judul buku        : Lebih Baik Tidak Sekolah
Pengarang          : Sujono Samba
Penerbit               : LkiS
Tempat terbit    : Yogyakarta
Tahun terbit       : 2007
Ukuran Buku      : xviii + 94 halaman; 12 x 18 cm
ISBN                     : 979-25-5259-6
Gelisah dengan model pendidikan yang ada di negeri ini memunculkan pandangan bahwa dari pada ”tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul buku        : Lebih Baik Tidak Sekolah<br />
Pengarang          : Sujono Samba<br />
Penerbit               : LkiS<br />
Tempat terbit    : Yogyakarta<br />
Tahun terbit       : 2007<br />
Ukuran Buku      : xviii + 94 halaman; 12 x 18 cm<br />
ISBN                     : 979-25-5259-6</p>
<p>Gelisah dengan model pendidikan yang ada di negeri ini memunculkan pandangan bahwa dari pada ”tidak jelas” maka lebih baik tidak sekolah saja. Ketidak jelasan ini maksudnya adalah seperti yang diungkapkan Sujono Samba yaitu ketidak jelasan ideologi dan identitas pendidikan di Indonesia.<br />
<span id="more-189"></span><br />
Buku ini menyajikan data tentang posisi kualitas pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain di dunia. Diantaranya adalah laporan dari United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2005 tentang Human Development Index (HDI) Indonesia yang menduduki peringkat ke 110 dari 177 negara, dibawah Vietnam, Philipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Dari penelitian Asian South Pacific Beurau of Adult Education dan Global Campaign for Education pada bulan Maret-Juni 2005 ditemukan bahwa kualitas guru di Indonesia rendah. Indonesia diberi nilai E dan menduduki peringkat 14 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Sementara untuk prestasi siswa, studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement di Asia Timur menunjukkan bahwa ketrampilan membaca siswa  kelas IV SD berada pada peringkat terendah dibawah Hongkong, Singapura, Thailand dan Philipina. Anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan sulit menjawab soal-soal yang berbentuk uraian dan memerlukan penalaran.</p>
<p>Sujono Samba mengemukakan bahwa sejatinya pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Kehidupan akan berkembang jika ada pemerdekaan dan pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika tidak ada suasana memerdekakan.</p>
<p>Berikut adalah prinsip-prinsip dari konsep pendidikan alternatif yang disampaikan Sujono Samba, yaitu dilandasi dengan semangat pembebasan serta perubahan ke arah yang lebih baik, keberpihakan pada  keluarga miskin, metodologi yang dibangun berdasarkan kegembiraan siswa dan guru dalam proses pembelajaran serta mengutamakan partisipasi dan komunikasi sehat antara pengelola pendidikan, guru, siswa, wali siswa, masyarakat dan lingkungan dalam merancang bangun sistem pendidikan yang realistis sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p>Seharusnya, pendidikan bisa mengantarkan seseorang menjadi manusia yang berkualitas. Dengan pemakain ukuran kualitas yang bukan hanya dari nilai sepuluh atau A dalam transkrip nilainya, tetapi lebih pada kemampuan dalam memecahkan persoalan hidup, memahami potensi diri, percaya diri, kreatif, mandiri, beretika dan terus bersemangat dalam mengembangkan pengetahuan untuk hidup sejahtera dan bermanfaat bagi orag lain.</p>
<p>Ponorogo, 03 Pebruari 2010<br />
Diresensi oleh: Rima Tri Pratiwi<br />
(Inisiator Rumah Cerdas Rausyankari)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/model-pendidikan-alternatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali Merenung</title>
		<link>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/kembali-merenung/</link>
		<comments>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/kembali-merenung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 23:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timbang Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Judul buku        : Renung dan Canda Pelawak Bersorban
Pengarang         : Nugroho Suksmanto
Penerbit             : koekoesan
Tempat terbit  : Depok
Tahun terbit     : 2008
Ukuran Buku     : x + 127 halaman, 11 x 18 cm
ISBN                     : 978-979-1442-12-1
Buku ini penuh dengan bahan-bahan yang layak untuk menjadi renungan bagi siapapun yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul buku        : Renung dan Canda Pelawak Bersorban<br />
Pengarang         : Nugroho Suksmanto<br />
Penerbit             : koekoesan<br />
Tempat terbit  : Depok<br />
Tahun terbit     : 2008<br />
Ukuran Buku     : x + 127 halaman, 11 x 18 cm<br />
ISBN                     : 978-979-1442-12-1</p>
<p>Buku ini penuh dengan bahan-bahan yang layak untuk menjadi renungan bagi siapapun yang membacanya. Puisi dan anekdot yang digunakan, menjadikannya mudah diterima oleh pembaca. Merenung dan sekaligus bercanda atau bisa jadi sebaliknya, bercanda sekaligus merenung. Nugroho <span id="more-186"></span>Suksmanto sengaja memberikan kebebasan bagi pembaca untuk memilih. Dia berkata bahwa yang dimaksud dengan renung di sini bukanlah usaha untuk mencari kebenaran apalagi pembenaran, tetapi lebih bertujuan untuk menggugah perasaan, agar kita mampu untuk lebih arif dalam menyikapi berbagai persoalan. Canda pun bukan ditujukan untuk meruntuhkan sakralitas sebuah agama tetapi hanya untuk mencairka suasana, agar kita tidak tercekam oleh bayangan tirani sebuah religi yang sering membuat kita menjadi kerdil karena wawasan yang sempit.</p>
<p>Puisi pembuka yang berjudul “Tuhanku”, mengajak kita untuk kembali merenungi keberagamaan kita. Bagaimana kita telah menafsiri agama masing-masing yang tentu saja sarat dengan berbagai kepentingan. Dalam “Makna di atas Fakta” disampaikan bahwa dalam beragama, makna lebih penting daripada fakta, hakikat lebih bermakna dari syariat dan Tuhan hadir dalam keyakinan bukan dalam kenyataan. Dan apabila kita bingung dalam bersikap atau mengambil keputusan, anekdot “Panggilan” bisa kita jadikan renungan. Cara membedakan panggilan Tuhan dan panggilan setan adalah apabila Tuhan yang memanggil, pasti meminta kita untuk membuat orang lain senang dalam kemudahan dan kesejahteraan. Jika untuk membuat orang lain susah dalam kesulitan dan kesengsaraan, itu pasti panggilan setan.</p>
<p>Nugroho Suksmanto juga berbicara tentang kehidupan dan kematian. Dalam ”Kematian adalah Kemenangan” bercerita tentang kematian seorang sufi yang sesungguhnya adalah sebuah kemenangan. Karena kematiannya akan terus memberikan inspirasi dan merasuki pikiran mereka-mereka yang mengembangkan iman dan taqwa tidak dengan dogma, tapi dengan wawasan dan cinta.</p>
<p>Polemik tentang poligami juga dibicarakan di sini. Bagi kebanyakan perempuan yang tidak mau dimadu, pasti akan menyepakati bahwa poligami masa kini merupakan sebuah pengkhianatan atas janji dan kesetiaan dari suami kepada istri yang dengan kodrat dan segala kelemahannya sudah berusaha sekuat tenaga untuk terus mendampingi suami.</p>
<p>Kemudian canda dan penjelasan guru sufi tentang penghargaan kepada orang lain termasuk dalam hal kepercayaan, juga cerita tentang kebaikan orang-orang atheis Kanada selayaknya bisa membuat orang-orang yang mengaku beragama kembali merenung.</p>
<p>Ponorogo, 09 Januari 2010<br />
Diresensi oleh: Rima Tri Pratiwi<br />
www.rumah-cerdas-rausyankari.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/03/05/kembali-merenung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengecut</title>
		<link>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/02/19/pengecut/</link>
		<comments>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/02/19/pengecut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 03:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 10 Maret 2007, 06.09 WIB.
Pengecut itu tidak segan untuk menghibur diri
Dengan berbagai kekalahan meski ia belum pernah bertarung
Sesungguhnya ia hanya berdiri di luar ring pertempuran
Dia tidak punya nyali untuk bertarung
Meski dia di pihak yang benar
Ia tahu bahwa dirinya seorang pengecut yang sejati
Sebenarnya ia punya potensi yang cukup untuk bekal dalam semua pertarungan
Akhirnya ia muak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 10 Maret 2007, 06.09 WIB.</p>
<p>Pengecut itu tidak segan untuk menghibur diri<br />
Dengan berbagai kekalahan meski ia belum pernah bertarung<br />
Sesungguhnya ia hanya berdiri di luar ring pertempuran<br />
Dia tidak punya nyali untuk bertarung<br />
Meski dia di pihak yang benar</p>
<p>Ia tahu bahwa dirinya seorang pengecut yang sejati<br />
Sebenarnya ia punya potensi yang cukup untuk bekal dalam semua pertarungan<br />
Akhirnya ia muak dengan dirinya sendiri<br />
Ia lari ke arah senja yang muram<br />
Dengan membawa sejuta kenistaan dan kenaspaan<br />
Betapa malang nasibmu wahai pengecut</p>
<p>oleh: arwan hamidi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2010/02/19/pengecut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
